MANOKWARI – Dukungan terhadap dr. Frans Tanuardus untuk memimpin Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Barat periode 2026–2030 terus mengalir. Sejumlah mantan pemain Perseman All Star menyatakan dukungan sekaligus mendesak perubahan dalam tata kelola organisasi sepak bola di Papua Barat.
Mantan pemain Perseman All Star, Hesrom Baturinding, menegaskan bahwa sebagian besar anggota Perseman All Star memberikan dukungan penuh kepada Frans Tanuardus. Mereka berharap kepemimpinan baru mampu membawa sepak bola Papua Barat keluar dari stagnasi prestasi.
“Kami All Star Perseman sebagian besar memberikan dukungan penuh kepada Bapak dr. Frans Tanuardus sebagai calon Ketua PSSI Papua Barat,” tegas Hesrom, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, perkembangan sepak bola Papua Barat belakangan ini belum menunjukkan prestasi yang membanggakan. Ia menilai berbagai agenda yang dijalankan PSSI masih sebatas rutinitas dan belum memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan sepak bola daerah.
“Secara umum PSSI Papua Barat belakangan ini tidak punya prestasi. Semua agenda PSSI yang dilakukan itu hanya sebatas rutinitas. Tetapi kami sebagai pelaku atau mantan pemain berharap ada perubahan dalam PSSI periode 2026–2030,” ujarnya.
Hesrom menilai Frans memiliki kecintaan yang kuat terhadap sepak bola serta didukung fasilitas yang dinilai memadai untuk menunjang pembinaan atlet. Menurutnya, ketersediaan sarana latihan menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki seorang calon pemimpin organisasi sepak bola.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan pemain tanpa harus terkendala persoalan tempat latihan.
“Calon ketua Asprov minimal memiliki fasilitas pendukung yang memadai, supaya dapat dimanfaatkan untuk proses pengembangan atlet sepak bola tanpa harus mencari-cari tempat untuk latihan,” katanya.
Hesrom menambahkan, pengalaman dan fasilitas pendukung yang dimiliki Frans semestinya menjadi bahan pertimbangan bagi para pemilik suara maupun seluruh elemen sepak bola dalam menentukan arah kepemimpinan Asprov PSSI Papua Barat ke depan.
Menurut dia, pemilihan ketua bukan sekadar pergantian figur, melainkan momentum untuk membenahi pembinaan atlet, meningkatkan kualitas kompetisi, dan mendorong prestasi sepak bola Papua Barat.
Sementara itu, mantan pemain Perseman All Star lainnya, Marthen Kabiayai, menegaskan pihaknya akan terus mengawal seluruh tahapan pendaftaran bakal calon Ketua Asprov PSSI Papua Barat yang sedang berlangsung.
Menurut Marthen, pengawasan terhadap proses pemilihan merupakan bagian penting dari upaya membangun tata kelola organisasi yang lebih baik, transparan, dan akuntabel.
“Kami akan terus mengawal seluruh tahapan pendaftaran bakal calon Ketua Asprov PSSI Papua Barat yang sementara berlangsung,” tegasnya.
Ia menilai, pengawasan dari para pelaku dan pemerhati sepak bola diperlukan untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan organisasi, sekaligus mencegah munculnya persoalan yang dapat mengganggu legitimasi hasil pemilihan.
Marthen secara khusus menyoroti pentingnya mekanisme penetapan komite dan asosiasi di lingkungan PSSI. Ia berpandangan, pembentukan unsur-unsur tersebut harus dilakukan melalui kongres sesuai ketentuan yang berlaku agar independensi dan transparansi organisasi tetap terjaga.
“Oleh sebab itu, seluruh komite dan asosiasi yang berada di bawah PSSI harus ditetapkan oleh kongres, karena terkait independensi dan transparansi serta mencegah potensi keberpihakan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemilihan Ketua Asprov PSSI Papua Barat periode 2026–2030 tidak hanya menyangkut persaingan kandidat, tetapi juga menyangkut kredibilitas proses dan masa depan pembinaan sepak bola di daerah.
Dengan harapan perubahan yang disuarakan para mantan pemain, kepemimpinan Asprov PSSI Papua Barat berikutnya dituntut mampu menghadirkan program nyata, memperkuat pembinaan usia dini, meningkatkan kualitas kompetisi, serta mengembalikan prestasi sepak bola Papua Barat.(Ct11)





