Hukum & Kriminal Internasional Manokwari Papua Barat Pemerintahan Religi SEO Teluk Wondama
Beranda / Daerah / Teluk Wondama / MHC Kecam Penganiayaan Warga Belanda di Manokwari, Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku

MHC Kecam Penganiayaan Warga Belanda di Manokwari, Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku

MANOKWARI – Ketua Manokwari Holland Club (MHC), Leumes Piet Wondiwoy, mengecam penganiayaan terhadap warga negara Belanda, Yunus, yang datang ke Manokwari untuk mengikuti perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) GKI di Tanah Papua. Ia mendesak kepolisian segera menangkap pelaku dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku.

Leumes menilai tindakan kekerasan terhadap tamu yang datang dengan tujuan baik itu tidak hanya merugikan korban, tetapi juga mencoreng citra masyarakat Manokwari.

“Atas nama masyarakat Manokwari, kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Kami sangat menyayangkan tindakan tersebut,” kata Leumes, Senin (26/10/2026).

Ia juga mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang telah mengamankan dan memberikan pertolongan kepada korban saat kejadian. Namun, ia meminta aparat tidak berhenti pada penanganan korban, melainkan segera mengungkap kasus tersebut dan membawa pelaku ke proses hukum.

“Kami meminta pihak kepolisian segera menangkap pelaku dan memprosesnya secara hukum. Kejadian ini sangat mencoreng nama baik masyarakat Kabupaten Manokwari,” tegasnya.

APTISI Papua Barat Diharapkan Perluas Akses Pendidikan

Sebagai warga Manokwari sekaligus advokat, Leumes menilai penganiayaan tersebut sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Menurut dia, korban datang ke Manokwari untuk menghadiri perayaan HUT GKI di Tanah Papua, bukan untuk mencari persoalan.

Ia mengingatkan bahwa Manokwari memiliki ikatan sejarah penting dengan masuknya Injil di Tanah Papua. Karena itu, tindakan kekerasan terhadap warga negara asing yang datang untuk mengikuti kegiatan keagamaan dinilai sangat tidak bermoral.

Leumes berharap peristiwa tersebut tidak merusak hubungan baik antara masyarakat Manokwari dan warga Belanda, sekaligus meminta aparat penegak hukum memberikan kepastian hukum bagi korban.

Sementara itu, Yunus bersama istrinya Raanya, menyampaikan bahwa penganiayaan yang mereka alami merupakan peristiwa menyedihkan. Meski demikian, keduanya berharap kejadian tersebut tidak digeneralisasi sebagai gambaran masyarakat Papua maupun Indonesia secara keseluruhan.

“Ini adalah kejadian yang menyedihkan, tetapi ini adalah nasib buruk. Hanya satu orang yang terlibat. Kejadian ini tidak mencerminkan semua orang Papua atau Indonesia,” ujar Yunus dan Raanya.

Baru 12,94 Persen, Pendaftaran Bansos Manokwari Masih Rendah

Keduanya menegaskan bahwa pengalaman tersebut tidak mengubah pandangan dan kecintaan mereka terhadap Papua, termasuk alam serta masyarakatnya.

“Kami mencintai Papua dan alamnya, dan itu tidak akan berubah,” ungkap mereka.

Yunus dan Raanya juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mereka setelah insiden tersebut. Keduanya memastikan bahwa kondisi mereka saat ini dalam keadaan sehat.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah kedatangan warga Belanda untuk mengikuti kegiatan keagamaan di Manokwari. Penanganan kasus secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.(Ct11)

Tersangka Penganiaya WNA Belanda Ditangkap, Motifnya Mabuk dan Minta Uang