TELUK BINTUNI – Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, menegaskan pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat bukan sekadar ajang perlombaan seni dan pelayanan gereja, tetapi menjadi momentum strategis untuk memperkuat harmoni, toleransi, dan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua Barat.
Penegasan tersebut disampaikan Yohanis saat membuka Pesparani Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat di Kabupaten Teluk Bintuni, Selasa (7/7/2026).
Menurut Yohanis, kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Teluk Bintuni sebagai tuan rumah merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan bagi seluruh masyarakat di Tanah Sisar Matiti. Ia memastikan seluruh masyarakat menyambut kehadiran para peserta dengan tangan terbuka.
“Merupakan sukacita dan kehormatan yang besar bagi kami dipercaya menjadi tuan rumah Pesparani Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat Tahun 2026,” ujar Yohanis.
Ia mengatakan, Teluk Bintuni tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan kawasan hutan mangrove terbesar, tetapi juga memiliki budaya toleransi dan persaudaraan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.
“Sebagaimana hutan mangrove yang menjalar ke berbagai arah, demikian pula hati masyarakat Teluk Bintuni yang selalu terbuka menyambut siapa pun yang datang,” katanya.
Yohanis menilai tema Pesparani IV, “Memuliakan Tuhan dengan Nyanyian, Menguatkan Persaudaraan di Tanah Papua Barat,” sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Teluk Bintuni yang selama ini hidup berdampingan dalam keberagaman suku, agama, dan budaya.
Menurutnya, memuliakan Tuhan tidak hanya diwujudkan melalui doa dan pujian, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, saling menjaga, serta saling mengasihi dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia menegaskan Pesparani bukan hanya menjadi perayaan umat Katolik, melainkan pesta kebersamaan seluruh masyarakat Teluk Bintuni tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
“Pesparani kali ini bukan hanya pesta umat Katolik, tetapi pesta persaudaraan seluruh masyarakat Teluk Bintuni,” tegasnya.
Yohanis turut memberikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang terlibat menyukseskan pelaksanaan Pesparani, termasuk partisipasi masyarakat lintas agama sejak penyambutan kontingen hingga pembukaan kegiatan.
Ia menyebut penampilan tarian dan musik yang dipersembahkan masyarakat Muslim saat menyambut para peserta menjadi bukti nyata bahwa toleransi di Teluk Bintuni bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi budaya hidup masyarakat.
“Bagi sebagian orang mungkin itu hanya pertunjukan budaya, tetapi bagi kami itulah wajah Teluk Bintuni yang sesungguhnya. Ketika umat Katolik menggelar pesta iman, saudara-saudara Muslim ikut menyambut dengan sukacita. Ketika satu kelompok bersukacita, seluruh masyarakat ikut bergembira,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Yohanis mengajak seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas, menghormati keputusan dewan juri, serta menjadikan setiap perlombaan sebagai sarana mempererat persaudaraan antarumat.
Ia berharap seluruh kontingen tidak hanya membawa pulang prestasi, tetapi juga pengalaman tentang kerukunan, keramahan, dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Teluk Bintuni.
“Semoga melalui Pesparani ini iman kita semakin diteguhkan, persaudaraan semakin diperkuat, dan semangat kebersamaan terus tumbuh dalam membangun Papua Barat yang damai, harmonis, dan penuh kasih,” pungkasnya.(Ct11)

