TELUK BINTUNI – Kontingen tuan rumah Kabupaten Teluk Bintuni tampil gemilang dengan memborong dua gelar juara pada cabang Mazmur Anak dan Mazmur Remaja dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat yang berlangsung di Gereja Katolik Santo Yohanes Bintuni, Rabu (8/7/2026).
Keberhasilan tersebut mempertegas kualitas pembinaan musik liturgi yang dilakukan Teluk Bintuni sekaligus membuka peluang besar bagi para juara untuk menjadi bagian dari kontingen Papua Barat pada Pesparani Katolik Tingkat Nasional.
Lomba diikuti lima kabupaten, yakni Teluk Bintuni, Manokwari, Kaimana, Teluk Wondama, dan Fakfak. Proses penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas Prof. Dr. Perry Rumengan, Budi Yohanes Susanto, dan Veronika Silvia Rettob dengan menggunakan standar penjurian internasional.
Berdasarkan hasil penilaian, pada kategori Mazmur Anak, Teluk Bintuni meraih peringkat pertama dengan nilai 78,75. Posisi kedua ditempati Manokwari dengan nilai 77,92, disusul Kaimana 76,08, Teluk Wondama 75,58, dan Fakfak 75,50.
Dominasi tuan rumah kembali berlanjut pada kategori Mazmur Remaja. Teluk Bintuni keluar sebagai juara pertama dengan nilai 81,25, unggul atas Kaimana yang memperoleh 80,17, Teluk Wondama 78,17, Manokwari 77,58, dan Fakfak 76,33.
Mewakili dewan juri, Prof. Dr. Perry Rumengan mengatakan seluruh peserta telah menunjukkan kemampuan yang cukup baik selama perlombaan. Meski demikian, masih terdapat sejumlah aspek teknis yang perlu ditingkatkan agar mampu bersaing pada tingkat nasional.
“Penilaian yang kami lakukan mengacu pada standar penjurian internasional sehingga seluruh peserta dinilai dengan ukuran yang sama, objektif, dan profesional. Secara umum kualitas penampilan sudah cukup baik, namun masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Menurut Prof. Perry, kualitas vokal, produksi suara, penguasaan teknik pernapasan, serta penghayatan menjadi unsur utama yang menentukan nilai peserta. Ia menegaskan, mazmur bukan sekadar lagu liturgi, melainkan doa dan pewartaan iman yang harus disampaikan melalui teknik vokal yang benar dan penuh penghayatan.
Selain itu, dewan juri menyoroti pentingnya penguasaan diksi atau pelafalan setiap kata dalam nyanyian liturgi. Menurutnya, kejelasan pelafalan menjadi faktor penting karena setiap syair mengandung pesan iman yang harus dapat dipahami umat.
“Bagaimana kita mau mewartakan kalau diksinya tidak jelas. Pada tingkat nasional, aspek tersebut akan menjadi perhatian penting dalam proses penilaian,” tegasnya.
Prof. Perry juga mendorong para pelatih di setiap daerah agar lebih fokus membangun fondasi teknik vokal sebelum mengembangkan aspek musikal lainnya. Pembinaan yang dilakukan secara konsisten diyakini akan meningkatkan kualitas intonasi, kekompakan, ekspresi, dan penghayatan peserta.
Di akhir penilaian, dewan juri memberikan apresiasi kepada seluruh peserta, pelatih, dan pendamping atas kerja keras yang telah ditunjukkan selama kompetisi. Masukan yang diberikan diharapkan menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan musik liturgi di Papua Barat sekaligus mempersiapkan peserta terbaik menghadapi Pesparani Katolik Tingkat Nasional.(Ct11)

