MANOKWARI – Pelaksanaan Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 tidak hanya menjadi panggung kemuliaan bagi seni paduan suara gerejawi, tetapi juga menjelma sebagai penggerak ekonomi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat Papua Barat.
Ketua Harian Panitia Pesparawi Nasional XIV, Jacob Fonataba, mengatakan hasil survei yang dilakukan panitia menunjukkan penyelenggaraan ajang nasional tersebut memicu peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Perputaran uang yang terjadi selama pelaksanaan Pesparawi dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan masyarakat.
“Pesparawi bukan hanya menjadi sarana kesaksian iman, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang sangat positif. Berdasarkan hasil survei, terjadi transaksi keuangan yang cukup besar dan memberikan pengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di Papua Barat,” ujar Fonataba, Minggu (28/6/2026).
Ia menjelaskan, manfaat ekonomi dirasakan mulai dari pelaku UMKM, pengrajin lokal, hingga sektor ekonomi kreatif. Produk-produk khas Papua, seperti batik Papua, seragam, desain grafis, dan berbagai hasil kerajinan tangan mengalami peningkatan permintaan seiring kedatangan ribuan peserta, ofisial, dan tamu dari seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, sektor pariwisata juga ikut menikmati berkah Pesparawi. Banyak peserta memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi sejumlah destinasi wisata dan pusat ekonomi kreatif di Kabupaten Manokwari, sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha wisata.
Fonataba mengungkapkan, aktivitas penyeberangan menuju destinasi wisata rohani di Pulau Mansinam juga membawa keuntungan bagi masyarakat yang mengoperasikan perahu penyeberangan. Meningkatnya jumlah wisatawan selama Pesparawi membuat pendapatan para pemilik dan pengemudi perahu ikut terdongkrak.
Dampak positif lainnya juga dirasakan para penyedia jasa transportasi darat. Kendaraan sewa beserta para pengemudi memperoleh tambahan penghasilan dari mobilitas ribuan peserta yang mengikuti berbagai agenda perlombaan dan kegiatan pendukung selama Pesparawi berlangsung.
Sektor kuliner pun ikut bergeliat. Panitia melibatkan organisasi-organisasi perempuan sebagai penyedia katering, makanan ringan, dan minuman bagi peserta. Selain itu, rumah makan, kafe, hingga pelaku usaha kuliner lainnya turut menikmati lonjakan pelanggan selama penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV.
Menurut Fonataba, rangkaian dampak tersebut membuktikan bahwa Pesparawi bukan sekadar agenda keagamaan berskala nasional, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah yang menggerakkan berbagai lapisan masyarakat.
“Manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Mulai dari pelaku UMKM, pengrajin, sektor transportasi, pariwisata, hingga usaha kuliner, semuanya memperoleh tambahan pendapatan selama Pesparawi berlangsung,” tuturnya.
Dengan besarnya perputaran ekonomi yang tercipta, Pesparawi Nasional XIV dinilai menjadi salah satu momentum strategis yang tidak hanya memperkuat persaudaraan dan pelayanan gerejawi, tetapi juga mendorong kebangkitan ekonomi lokal serta memperluas promosi potensi wisata dan produk unggulan Papua Barat di tingkat nasional.(Ct11)

