MANOKWARI — Asap akibat pembakaran lahan mulai mengganggu operasional penerbangan di Bandara Rendani Manokwari, Papua Barat. Kondisi tersebut bahkan dikeluhkan sejumlah pilot karena jarak pandang saat proses pendaratan menurun.
Kepala Badan Layanan Umum Unit Penyelenggara Bandar Udara (BLU UPBU) Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terutama di sekitar wilayah yang dapat berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
“Kami sangat berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan apa pun karena asapnya bisa berakibat ke kami di bandar udara. Asap itu akan mengganggu operasional penerbangan,” kata Herman, Jumat (21/8/2026).
Menurut Herman, dalam beberapa hari terakhir pihaknya menerima keluhan dari pilot yang mendapati adanya kumpulan asap di area pendekatan pendaratan, khususnya dari sisi selatan Bandara Rendani.
Kondisi tersebut membuat jarak pandang pilot berkurang. Padahal, pada jarak tertentu pilot seharusnya sudah dapat melihat landasan pacu untuk memastikan proses pendaratan berlangsung aman.
“Di beberapa hari terakhir keluhan dari pilot, mereka mendapati ada kumpulan asap di area pendaratan kita, khususnya di bagian selatan. Itu mengurangi jarak pandang,” ujarnya.
Keluhan tersebut, kata Herman, mulai diterima sejak 9 Agustus hingga 20 Agustus 2026, dan paling sering terjadi pada pagi hari.
Pihak bandara telah berupaya membantu proses pendaratan dengan mengoptimalkan lampu pendaratan. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan jarak pandang akibat kepulan asap.
“Kami sudah membantu dengan lampu pendaratan, tetapi kenyataannya tidak banyak membantu,” kata Herman.
Herman menegaskan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena keselamatan penerbangan sangat bergantung pada kondisi jarak pandang, terutama ketika pesawat melakukan pendekatan dan pendaratan.
Ia berharap masyarakat memahami bahwa pembakaran lahan yang dilakukan di satu lokasi dapat menimbulkan dampak lebih luas, termasuk terhadap aktivitas transportasi udara.
“Jangan sampai aktivitas pembakaran justru mengganggu keselamatan dan kelancaran penerbangan,” ujarnya.(Ct11)





