HUT 171 Pekabaran Injil adalah Karya Kristus yang harus hidup - Cakrawala Time
Daerah Inspirasi Manokwari
Beranda / Daerah / Manokwari / HUT 171 Pekabaran Injil adalah Karya Kristus yang harus hidup

HUT 171 Pekabaran Injil adalah Karya Kristus yang harus hidup

MANOKWARI – Hari Pekabaran Injil (PI) di tanah Papua ke-171 Tahun 2026, menjadi momentum refleksi iman sekaligus seruan moral bagi gereja dan seluruh masyarakat Papua untuk belajar dari sejarah dan menerjemahkannya dalam kehidupan nyata.

Pesan tersebut disampaikan Perwakilan Badan Pekerja Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Wilayah VI, Pdt. Albert Rumaropen, dalam perayaan HUT PI ke-171 yang dipusatkan di Pulau Mansinam, Manokwari, Kamis (5/2/26).

Pekabaran Injil tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata umat ber-gereja maupun bermasyarakat.

“Karya Allah di masa lampau bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus dihidupi dalam berbagai aspek kehidupan, baik spiritual, sosial, budaya, ekonomi, maupun politik,” ungkap Pdt. Albert Rumaropen.

Ditengah rasa syukur atas kehidupan yang masih dapat dijalani dengan baik, gereja dan masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap berbagai luka kemanusiaan di Tanah Papua.

Wakil Bupati Manokwari Tinjau Kesiapan Lokasi Sholat Idul Fitri 1447H

“Masih ada kekerasan, konflik, dan rasa tidak aman yang dialami anak-anak serta masyarakat. Karena itu, perayaan ini harus mendorong kita untuk belajar dari sejarah dan bertindak di masa kini,” sambungnya.

Sejarah Pekabaran Injil di Tanah Papua mengajarkan keselamatan Allah bukan hanya untuk dinikmati secara pribadi, tetapi harus dibagikan kepada sesama.

Maka iman Kristen tidak berhenti pada relasi pribadi dengan Tuhan, melainkan lebih kepada perubahan cara hidup dan cara berpikir. Selain itu, pertobatan rohaniah di dalam Kristus harus menjadi landasan kehidupan sehari-hari.

“Wajah dan nilai Kristus harus tampak dalam hidup kita. Gereja tidak cukup hanya berbicara tentang kesalehan pribadi, tetapi juga harus menjalani pertobatan sosial,” tuturnya.

Ia menambahkan, gereja dipanggil untuk berdiri bersama orang miskin, tertindas, dan terpinggirkan, serta menunjukkan kepedulian terhadap pendidikan dan kemanusiaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, gereja juga harus tetap kritis terhadap kekuasaan.

Alfred Papare Resmi Berpangkat Irjen

“Gereja harus membangun budaya damai, saling menghargai, dan hidup bersama dalam keberagaman. Gereja harus setia pada panggilan untuk bersuara tentang kebenaran dan keadilan, serta tidak boleh berkompromi atau bersekongkol dengan kekuasaan yang menindas,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti persoalan ekologi sebagai bagian penting dari panggilan iman gereja.

“Kita harus bertobat dari praktik jual beli kekayaan alam yang hanya menguntungkan pemilik modal dan kekuasaan. Gereja harus berdiri bersama masyarakat adat yang berjuang mempertahankan tanahnya,” ujarnya.

Menurutnya, Tanah Papua adalah anugerah Allah yang harus dijaga sebagai amanat iman dan tanggung jawab bersama bagi generasi sekarang dan mendatang.

“Di tengah krisis global, krisis iklim, dan krisis kemanusiaan, umat Tuhan di Tanah Papua dipanggil menjadi tanda harapan Kristus bagi Indonesia dan dunia,” pungkasnya.

Kapolresta Manokwari dan Jajaran Kunjungi Pos Ops Ketupat Mansinam 2026

Ia menegaskan bahwa perayaan HUT PI ke-171 bukan hanya milik orang Papua semata.

“Ini adalah kesaksian bahwa Allah bekerja melalui gereja-Nya untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan pemulihan bagi seluruh ciptaan,” tutup Pdt Albert Rumaropen.

Mengakhiri pernyataannya, Pdt Albert Rumaropen mengajak seluruh umat untuk merayakan HUT Pekabaran Injil ke-171 bukan hanya dengan simbol dan seremoni, tetapi dengan pemikiran iman yang mendalam serta kesetiaan pada panggilan keadilan dan perdamaian. (Ct-11)