MANOKWARI — Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Papua Barat, Harton Tapilatu, menilai dua kandidat Ketua Umum KONI Papua Barat, Yosias Saroy dan Mohammad Lakotani, memiliki pengalaman yang cukup kuat di bidang politik, pemerintahan, maupun olahraga.
Harton mengatakan, kedua kandidat memiliki rekam jejak masing-masing yang menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kepemimpinan KONI Papua Barat ke depan.
“Kalau kedua calon ini, kami sama-sama tahu. Mereka bersama-sama ada di dunia politik, pemerintahan maupun dunia olahraga,” kata Harton, Sabtu (22/8/2026).
Ia menyebut Yosias Saroy memiliki pengalaman panjang di pemerintahan dan olahraga. Saroy diketahui pernah menjadi pengurus Perseman Manokwari, pengurus Persip Pegaf, menjabat Bupati Pegunungan Arfak selama dua periode, serta pernah memimpin KONI Pegunungan Arfak.
Sementara Mohammad Lakotani, kata Harton, juga memiliki pengalaman di dunia olahraga dan pemerintahan. Lakotani saat ini diketahui menjabat sebagai Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Papua Barat dan pernah menjabat Wakil Gubernur Papua Barat selama dua periode.
Meski mengakui keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, Harton menegaskan FORKI Papua Barat tidak ingin menjadikan rekam jejak maupun latar belakang kedua kandidat sebagai satu-satunya dasar penilaian.
Menurut dia, substansi utama dalam kontestasi Ketua Umum KONI Papua Barat adalah komitmen terhadap kemajuan olahraga dan kepentingan cabang olahraga serta atlet.
“Kami punya penilaian sendiri. Kalau dinilai, kedua calon ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itu bukan poin pentingnya,” ujarnya.
Harton menegaskan, siapa pun yang nantinya terpilih harus mampu membawa perubahan nyata bagi olahraga Papua Barat. Ia mengingatkan agar kepemimpinan KONI ke depan tidak justru menjadikan cabang olahraga sebagai pihak yang dikorbankan dalam pengelolaan organisasi.
“Pada prinsipnya, dari kedua calon ini, jika salah satu yang terpilih, olahraga ini harus lebih baik, bukan dikorbankan ke cabor,” tegasnya.
Ia juga meminta kepengurusan KONI Papua Barat nantinya mengubah orientasi pengelolaan organisasi dengan menempatkan kepentingan cabang olahraga dan atlet sebagai prioritas utama.
Menurut Harton, KONI seharusnya menjadi rumah bagi seluruh cabang olahraga dan berfungsi sebagai lembaga yang memastikan pembinaan atlet berjalan secara konsisten, terarah, serta menghasilkan prestasi.
“Pengurus KONI harus memperhatikan cabor dan atlet dibandingkan institusi KONI sendiri,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi FORKI Papua Barat yang masih menunggu proses resmi Musyawarah Olahraga Provinsi KONI Papua Barat sebelum menentukan dukungan. Bagi FORKI, figur ketua terpilih nantinya bukan sekadar persoalan siapa yang memenangkan kontestasi, melainkan siapa yang mampu memastikan pembinaan atlet dan prestasi olahraga Papua Barat benar-benar menjadi prioritas.(Ct11)





