Manokwari Papua Barat Religi Teluk Bintuni
Beranda / Daerah / Teluk Bintuni / Juarai Bertutur Kitab Suci, Almasih Yetu Harumkan Nama Teluk Bintuni di Pesparani IV Papua Barat

Juarai Bertutur Kitab Suci, Almasih Yetu Harumkan Nama Teluk Bintuni di Pesparani IV Papua Barat

TELUK BINTUNI – Penampilan memukau Almasih Eduardus Yetu menjadi salah satu sorotan dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat. Mengenakan busana adat Arfak dan tampil penuh penghayatan, peserta asal Kabupaten Teluk Bintuni itu sukses meraih Juara I cabang Bertutur Kitab Suci, Rabu (8/7/2026).

Penampilan siswa SD YPPK Manineri tersebut berhasil memikat perhatian dewan juri saat membawakan kisah penyelamatan bangsa Israel dari kejaran tentara Firaun di Laut Teberau. Dengan penguasaan materi, ekspresi yang kuat, serta penyampaian yang komunikatif, Almasih tampil percaya diri dan mampu menghidupkan kisah Kitab Suci di hadapan para penonton.

Berdasarkan hasil penilaian, Almasih keluar sebagai juara pertama dengan perolehan 268 poin. Posisi kedua ditempati peserta asal Kabupaten Fakfak dengan 261 poin, disusul Kabupaten Manokwari 247 poin, Teluk Wondama 237 poin, dan Kabupaten Kaimana 236 poin.

Keberhasilan tersebut sekaligus menambah daftar prestasi kontingen Kabupaten Teluk Bintuni dalam ajang Pesparani IV Papua Barat yang berlangsung di daerah berjuluk Negeri Seribu Sungai itu.

Usai menerima penghargaan, putra pasangan Efraim Yetu dan Antomina Dowansiba mengaku bersyukur atas hasil yang diraihnya. Ia mengungkapkan sempat dilanda rasa gugup sebelum tampil, namun berhasil mengatasinya hingga mampu memberikan penampilan terbaik.

Keluarga Setujui Autopsi Jenazah Yanto Idorway, Kuasa Hukum: Penting untuk Pembuktian Pidana

“Awalnya saya gugup, tetapi akhirnya bisa menyelesaikan penampilan dengan baik,” ujarnya.

Almasih mengatakan kemenangan tersebut menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri lebih matang menghadapi Pesparani Katolik Tingkat Nasional di Manado pada tahun 2027.

Ia berharap dapat kembali mengenakan busana adat Arfak sebagai identitas budaya Papua Barat ketika tampil di tingkat nasional.

“Saya ingin membawa budaya Papua Barat ke tingkat nasional dengan tetap mengenakan pakaian adat Arfak saat bertanding nanti,” katanya.

Sementara itu, anggota dewan juri Johana Velisita J. Lindawati memberikan apresiasi terhadap penampilan seluruh peserta yang dinilai memiliki kualitas sangat baik.

Kasus Penganiayaan dan Pencurian Dominasi Kriminalitas di Manokwari, Polisi Singgung Dampak Perda Miras

Menurutnya, kemampuan peserta dalam menguasai materi, menyampaikan cerita, serta menghayati isi Kitab Suci membuat proses penilaian berlangsung ketat.

“Kelima peserta tampil luar biasa. Penguasaan materi sangat baik dan penyampaiannya juga sudah matang. Penjiwaannya pun sangat baik,” ujarnya.

Meski demikian, Johana menilai kemampuan para peserta masih perlu terus diasah melalui pembinaan yang berkesinambungan agar mampu bersaing lebih kompetitif pada ajang nasional.

“Bakat yang dimiliki anak-anak ini sudah sangat baik. Tinggal terus dibina dan dikembangkan agar kualitasnya semakin meningkat,” katanya.

Cabang Bertutur Kitab Suci menjadi salah satu perlombaan bergengsi dalam Pesparani karena tidak hanya menguji kemampuan bercerita, tetapi juga menilai penguasaan materi, teknik penyampaian, ekspresi, artikulasi, serta penghayatan terhadap pesan iman yang terkandung dalam Kitab Suci.

Polisi Ungkap Kronologi Penemuan Jenazah Yanto Idorway di Celah Batu Air Terjun Memti

Keberhasilan Almasih Yetu tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Teluk Bintuni, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi Papua Barat untuk tampil lebih kompetitif pada Pesparani Katolik Tingkat Nasional 2027 di Manado, dengan mengangkat kekayaan budaya lokal sebagai bagian dari identitas dalam pelayanan dan pewartaan iman.(Ct11)