MANOKWARI – Aksi pemalangan jalan dan pembakaran ban bekas yang sempat membuat arus lalu lintas di Jalan Yos Sudarso, Sanggeng, Manokwari, lumpuh pada Rabu (1/7/2026), ternyata bukan aksi unjuk rasa seperti yang diduga banyak warga.
Di balik kepulan asap dan jalan yang dipalang menggunakan batang kayu, tersimpan sebuah kejutan. Aksi tersebut merupakan bentuk surprise dari pemuda Sanggeng untuk mengucapkan Selamat Hari Bhayangkara ke-80 kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Perwakilan pemuda Sanggeng mengatakan pemalangan yang dilakukan hanyalah simbolis untuk mengingatkan masyarakat bahwa kawasan Sanggeng telah berubah dan tidak lagi identik dengan stigma negatif seperti di masa lalu.
“Hari ini kami ingin menunjukkan bahwa pemuda Sanggeng tidak seperti dahulu lagi. Palang jalan hari ini hanya formalitas. Ini cara kami mengucapkan Dirgahayu Polri ke-80,” ujarnya di hadapan aparat kepolisian dan masyarakat.
Ia mengakui, pada masa lalu kawasan Sanggeng kerap dikenal karena aksi kriminalitas maupun pemalangan jalan. Namun, menurutnya, kondisi tersebut kini telah berubah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda.
“Dahulu kami di Sanggeng terkenal dengan kriminalitas dan suka palang jalan. Tetapi hari ini kami ingin memastikan bahwa kami berdiri bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat untuk mendukung pembangunan serta menjaga situasi keamanan tetap kondusif,” katanya.
Pernyataan tersebut disambut positif oleh masyarakat dan aparat kepolisian yang berada di lokasi. Setelah pesan tersebut disampaikan, situasi kembali kondusif dan arus lalu lintas berangsur normal.
Menutup aksinya, para pemuda kembali menyampaikan ucapan selamat kepada institusi Kepolisian Republik Indonesia.
“Sekali lagi kami mengucapkan Dirgahayu Polri ke-80. Semoga Polri semakin jaya dan terus menjadi pelindung, pengayom, serta pelayan masyarakat,” ucapnya.
Aksi yang sempat memancing perhatian warga itu pun berakhir damai. Momen tersebut menjadi simbol perubahan wajah Sanggeng, dari kawasan yang dahulu kerap dikaitkan dengan konflik menjadi komunitas yang menyatakan komitmennya mendukung keamanan, ketertiban, dan pembangunan di Papua Barat.(Ct11)

