MANOKWARI – Penampilan Kontingen Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) Provinsi Maluku menjadi salah satu sajian paling memikat pada ajang Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 di Aula Universitas Papua (UNIPA), Manokwari, Jumat (26/6/2026). Tidak hanya memukau lewat kualitas olah vokal, penampilan mereka juga mencuri perhatian berkat balutan busana bernuansa hitam yang dipadukan dengan motif batik khas Maluku, menghadirkan kesan anggun, megah, sekaligus sarat identitas budaya.
Di bawah arahan konduktor Ronald Johanes Istia, puluhan penyanyi tampil penuh percaya diri membawakan tiga lagu yang disajikan dengan harmonisasi vokal kuat dan penghayatan yang mendapat apresiasi dari penonton.
Ronald mengungkapkan, penampilan tersebut merupakan hasil dari persiapan yang relatif singkat. Meski demikian, seluruh tim mampu memberikan persembahan terbaik di atas panggung.
“Proses latihan kami bisa dibilang cukup singkat, hanya sekitar 23 hari latihan secara kolektif. Apa yang kami tampilkan hari ini adalah seluruh kemampuan terbaik yang kami miliki. Kalau soal puas, tentu dalam memuji Tuhan kita harus memberikan yang terbaik,” ujar Ronald.
Ia juga menjelaskan penggunaan batu sebagai bagian dari penampilan bukan sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian dari aransemen lagu yang dibawakan.
“Di dalam partitur memang sudah ada. Saya selalu menanamkan kepada seluruh tim untuk tetap rendah hati dalam memuji Tuhan. Dengan begitu, Tuhan sendiri yang akan menilai setiap persembahan pujian yang kami bawakan,” katanya.
Tak hanya kualitas musikal, busana para peserta juga menjadi sorotan. Kostum yang dikenakan merupakan hasil rancangan internal tim PSDC Maluku dengan melibatkan penjahit lokal di Ambon.
Salah satu perwakilan tim, Whisye Matahelumual, mengatakan desain tersebut dipilih setelah melalui sejumlah pertimbangan untuk menampilkan karakter Maluku secara elegan di panggung nasional.
“Ini murni ide dari tim internal PSDC. Setelah melihat beberapa alternatif desain, kami sepakat memilih busana ini. Seluruh proses penjahitannya juga dikerjakan oleh penjahit lokal di Ambon,” ujarnya.
Senada, Reyland Tasaney menjelaskan proses penyelesaian busana dilakukan dalam waktu sekitar dua pekan. Berbagai ornamen yang melekat pada kostum sengaja dihadirkan untuk merepresentasikan kekayaan budaya Maluku.
“Hanya dalam waktu dua minggu busana ini kami selesaikan. Ornamen yang digunakan menggambarkan ciri khas Maluku sehingga tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa identitas daerah kami ke panggung Pesparawi Nasional,” katanya.
Perpaduan harmonisasi suara yang kuat, ekspresi penuh penghayatan, serta balutan busana etnik yang elegan menjadikan penampilan PSDC Maluku sebagai salah satu yang paling mencuri perhatian sepanjang jalannya kompetisi kategori paduan suara dewasa campuran di Pesparawi Nasional XIV.(Ct11)

